Seandainya Aku Menjadi Pemimpin: Akan Kubuat Sekolah Biasa Saja yang Memberikan Kemerdekaan Belajar

Sanggar Anak Alam Yogjakarta

Akan kubuka tulisan ini dengan cuplikan sajak dari WS.Rendra (1996) berjudul “Seonggok Jagung”.

Seonggok jagung di kamar tak akan menolong seorang pemuda

Yang pandangan hidupnya berasal dari buku, dan tidak dari kehidupan

Yang tidak terlatih dalam metode,dan hanya penuh hafalan kesimpulan,

yang hanya terlatih sebagai pemakai,

tetapi kurang latihan bebas berkarya.

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya:

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota

Kikuk pulang ke daerahnya?

Apakah gunanya seseorang

Belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran atau apa saja, bila pada akhirnya ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :

“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

Bagaimana setelah memabaca sajak ini, apakah ada perasaan menganjal, atau mengaiminya? Silakan dijawab dalam hati.

Sekolah ?

Jika mendengar kata “sekolah” apa yang Anda bayangkan? Sebuah bangunan dengan bangku berjejar rapi dengan para murid memakai seragam?. Atau dimana para murid memandang papan dengan seabrek terori yang harus dihafalkan agar kelak ketika ujian dapat mengerjakan soal. Atau mungkin sebuah sistem yang dibuat sedemikian rupa untuk mentransfer pengetahuan dari guru kepada anak didiknya. Mungkin saja sekolah sebagai jembatan untuk mencapai tujuan tertentu. Entahlah, atau mungkin Anda punya bayangan yang lainnya.

Jika menilik arti kata sekolah, secara etimologi berasal dari Bahasa Latin, yaitu schola yang secara harfiah bermakna “waktu luang”atau “waktu sengang”.  Pada awalnya sekolah memanglah untuk mengisi waktu luang, ketika orang tua sibuk bekerja dan menitipkan anaknya sementara waktu kepada seseorang yang dianggap bijaksana untuk mengajar banyak hal kepada anak-anaknya.

Namun seiring perkembangan kehidupan yang kian beragam sekolah menjadi sebuah tempat belajar dengan mengikuti kurikulum tertentu dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan yang berpotensi menimbulkan kebencian dan kebosan untuk belajar.

Paradigma Sekolah

Sependek yang saya tahu, makna sekolah telah bergeser. Jika saya boleh mengulas, pergeseran makna sekolah bisa dilihat dari berbagai aspek. Aspek pertama, saat ini sekolah sudah berubah orientasinya, layaknya perusahaan yang menerapkan sistem seleksi yang begitu ketat bagi calon peserta didiknya. Sehingga muncul istilah “ sekolah unggulan hanya untuk orang-orang pintar”. Nampaknya sekolah semacam itu telah melupakan arti pendidikan sebagai sarana unuk mewujudkan proses belajar agar para peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi yang dimiliki. Bukankah menerapkan standar-standar tertentu akan menghalangi itu semua?

Aspek selanjutnya merupakan adanya wacana bahwa pendidikan menjadi komoditi nampaknya akan terlihat nyata adanya. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya kasus tentang anak yang putus sekolah dengan alasan orangtuanya tidak mampu membayar biaya pendidikan yang terlalu mahal. Padahal amanah UUD 1945 pasal 31 menyatakan bahwa mendapatkan pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara. Meski upaya negara untuk mewujudnya cita-cita tersebut nyata adanya. Namun tak dapat dipungkiri dunia pendidikan yang semestinya dibangun berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan, kebijaksanaan kini kerap dimuati nilai-nilai komersial. Jika diperhatikan, saat ini bisnis pendidikan makin subur dan menjamur. Dengan menu jualan bervariasi (sekolah IT,bilingual, sekolah berkurikulum A sampai Z, dll) membuat sekolah seperti perusahaan dan terlihat mencari profit semata. Dengan harga yang hanya mampu dibayar kalangan berduit dan bukan untuk orang miskin. Benar adanya kualitas sebanding dengan harga.

Bergesernya makna sekolah yang dapat dilihat berikutnya adalah sekolah seperti mencetak roti semata. Mungkin beberapa dari kita pernah melihat dan mendengar dari televisi ketika pejabat tinggi negara pernah mengatakan “ siap mencetak siswa yang siap bekerja”, ataupun dalam baliho besar di pinggir jalan terpampang nyata “Mencetak Siswa Berprestasi dan Berakhlakul Karima”. Padahal jika dilihat penegrtian mencetak yakni membuat sesuatu dengan acuan tertentu. Ibarat mencetak roti dengan bahan dan alat tertentu sehingga menghasilkan roti tertentu. Lantas apakah anak-anak, siswa dan manusia bisa dicetak seperti halnya mencetak roti?. Bukankah anak-anak, siswa dan manusia merupakan mahkluk hidup yang secara kodrati akan tumbuh dan berkembang yang telah mempunyai misi dan peran berbeda yang telah Tuhan amanahkan?

Bergesernya makna sekolah selanjutnya yang terpampang nyata adalah sekolah menjadi tempat kompetisi, bersaing, dan saling menggungguli sejak dini. Mungkin sebagian besar dari kita adalah para korban atas adu pertandingan untuk mencapai rangking tertinggi. Dengan modal, lingkungan, asupan gizi, dan fasilitas yang tak sama dituntut untuk mencapai standart perstasi yang sama. Padahal setiap orang mempunyai potensi serta persoalan yang berbeda.

Seperti itulah yang kulihat paradigma pendidikan yang ada di negeri kita saat ini. Dengan berbagai persoalan dan segambreng solusi yang ditawarkan kerap kali tak mampu mewujudkan cita-cita mulia dalam mencerdasakan kehidupan bangsa. Peran generasi muda sangatlah penting. Dengan modal rasa cinta pada negeri, seandainya aku menjadi pemimpin akan membuat sekolah biasa saja yang memberikan kemerdekaan belajar.

Seperti amanah dari bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan merupakan tuntunan yang bisa membawa seseorang menemukan potensi diri dengan bahagia jiwa dan raganya. Tugas pendidik sejatinya hanya menebalkan yang baik dan meblurkan yang buruk. Karena sejatinya manusia sudah lahir dengan fitrahnya yang mendapat misi hidup berbeda di dunia. Lantas seperti apa praktinya untuk membuat sekolah biasa saja yang memberikan kemerdekaan belajar?

Sekolah Tanpa Aturan

Pertama untuk menciptakan kemerdekaan belajara adalah membuat sekolah tanpa aturan. Mungkin terkesan sembrono dan tak mungkin, namun sekolah tanpa aturan seperti ini telah dilakoni SALAM (sanggar ana kalam) Yogyakarta selama dua dekade. Lantas apakah sekolah itu bebas dan terkesan tak beraturan, tentu saja tidak.

Kemerdekaan belajar tak hanya sebatas kebebasan untuk tak berseragam atau bersepatu. Sejatinya kemerdekaan dimana tak ada aturan yang ditetapkan oleh yang lebih berkuasa untuk dilaksankan oleh semua.

Tak ada aturan baku, yang ditanamnkan adalah kesepakatan bersama melibatkan semua warga sekolah (siswa dan pendidik) serta konsenkuensi atas pelangaran kesepakatan. Sehingga tiap kelas akan mempunyai kesepakatan dan konsekuensi yang berbeda dengan menyesuaikan kebutuhan tiap kelas.

Kesepakatan bersama merupakan alat paling mudah untuk menumbuhkan swadisiplin. Menumbuhkan displipin pada anak dengan hukuman dan hadiah bukanlah hal yang efektif. Anak yang tumbuh dengan ancaman tidak hanya belajar caranya mengancam, namun juga melemahkan kesadaran diri akibat dari kepatuhan yang hanya berjalan ketika takut akan adanya hukuman. Bukankah menumbuhkan swadisplipin jauh lebih penting sebagai bekal kehidupan dalam menumbuhkan kesadaran akan suatu hal, akan hak dan kewajibannya dalam setiap peran yang diemban.

Sekolah Tanpa Mata Pelajaran

Pada umumnya sekolah memang berbasis mata pelajaran untuk mengelompokkan subjek apa yang akan dipelajari. Subjek pelajaran seolah berdiri sendiri-sendiri , terkotak-kotak dan tidak terkait satu sama lain. Nyatanya dalam kehidupan yang sudah kita tahu, bahwa tak ada pengetahuan yang berdiri sendiri. Adanya pengotak-kotakan mata pelajaran akan membatasi insting anak dalam mengeksplorasi dan memperoleh pengetahuan.

Lantas sepertii apa proses belajarnya?, para siswa akan dibiasakan belajar dari pengamatan langsung pada sumber belajarnya. Dengan cara melihat, mengamati, bersentuhan dan melakukan sesuatu dari sumber belajarnya, mengambil kesimpulan dan mengungkapkan apayang mereka lihat dan apa yang mereka temukan serta mencari solusinya. Membangun ekosistem belajar semacam itu memanglah lebih sulit, namun akan lebih sulit ketikapara siswa dituntut untuk menghafal berbagai macam pengetahuan yang kelak ketika lulus akan tergagap tidak dapat menyelesaikan persoalannya karena proses belajar tidak saling berkaitan.

Membangun Ekosistem Belajar

Sekolah yang sejatinya sebagai tempat untuk mengembangkan bakat, minat, rasa “bahagia” untuk belajar, menjadi manusia berilmu dan merasa merdeka untuk menjadi manusia yang diinginkan membutuhkan proses yang tak instan. Butuh kesadaran bahwa setiap anak itu unik, dengan keunikan yang dimiliki mempunyai kebutuhan akan proses belajar yang berbeda. Dan belajar yang menyenangkan adalah modal utama dalam membangun ekosistem belajar. Berpusat pada ketertarikan anak dengan memberikan pengalaman langsung dengan cara mengoptimalkan panca indra. Selain itu memupuk dan menumbuhkan kebiasan bertanya dan mencari tahu bersama adalah stimulan yang efektif. Sehingga sejak usia dini, anak-anak sudah dimerdekakan serta dibangunkan ekosistem belajar. Kelak ini akan menjadi pondasi yang membentuk sebuah pola pikir yang dapat mendorong sikap siap menerima kegagalan sebagai bagian dari proses mencari dan menemukan sendiri dengan kesadaran penuh akan pentingnya sebuah proses belajar.

Demikian sekelumit angan-angan ketika mengandai-andai menjadi pemimpin. Saya percaya akan ada orang-orang yang mengamini dan banyak orang yang akan memaki. Tapi itulah bukti nyata bahwa kita memang tak seragam, dan sejatinya kita adalah anak merdeka dengan warna beragam namun di mata alam dan Pencipta kita adalah sama. Selamat membacadan bergembira bersama.

Referensi:

Raharjo,Toto. 2018. Sekolah Biasa Saja. Yogyakarta: INSISTPress

Topatimangsa, Roem. 2018. Sekolah itu Candu. Yogyakarta: INSISTPress

Gernatiti,dkk. 2019. Sekolah Apa Ini. Yogyakarta: INSISTPress

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart