Pendakian Gunung Penangungan dengan Rindu yang Teramat
Puncak Gunung Penanggungan - Teman seperjalanan

Pendakian Gunung Penangungan dengan Rindu yang Teramat

Beberapa pekan kemarin adalah moment spesial buat kami. Setalah hampir 5 tahun akhirnya semesta merestui untuk tandem bersama teman seperjalanan hidup. Menikmati medan berdebu Pawitra terasa begitu istimewah. Bagi kami Penanggunan bukanlah gunung istimewah namun berjalan bersama mu, menghabiskan malam berselimutkan bintang dengan nafas terengah-engah adalah moment yang amat berarti untukku. Aku sangat bahagia berjalan berdua meski rindu pada Lestari terasa mengadu.

Gunung Penangungan mungkin sudah tak asing buat para pendaki di wilayah Jawa Timur. Gunung ini sangat sering dikunjungi , karena lokasinya yang stategis dan aksesnya sangat mudah. Selain itu waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan di gunung Penanggungan terbilang singkat. Kita hanya membutuhkan sekitar 4 jam untuk mencapai puncaknya. Gunung Penanggungan sering disebut sebagai miniatur Semeru, dilihat dari kondisi puncaknya yang sangat tandus, mirip Semeru.

Medan di Gunung Penanggungan tidak jauh berbeda dengan gunung-gunung lainnya, mulai dari datar/landai, miring, berbukit dengan jurang di setiap sisi semua tersaji lengkap. Pada awal perjalanan, akan menemui medan yang landai dengan kondisi jalan makadam. Sesekali akan melewati segerombolan pohon bambu, istilah orang jawa barongan. Estimasi yang diperlukan sekitar 30 menit untuk sampai pada batas akhir jalan makadan. kemudian bertemu dengan pertigaan dan ada tulisan puncak yang tertempel menunjukan arah kanan. Dilanjut dengan medan yang terus menanjak dan terkadang jalan datar yang biasanya digunakan untuk istirahat sejenak.

Sebelum sampai di puncak bayangan terdapat pohon-pohon besar dan sesekali terdapat jurang di sisi jalur. Estimasi waktu yang diperlukan untuk sampai pada puncak bayangan, sekitar 2 jam. Puncak bayangan merupakan padang ilalang yang datar sebelum menuju puncak. Tempat ini biasanya digunakan untuk lokasi mendirikan tenda ketika bermalam untuk menikmati keindahan malam berhiaskan lampu kota Mojokerto dan sekitarnya. Ketika hendak bermalam disini, sebaiknya mencari tempat yang dikelilingi ilalang tinggi untuk mendirikan tenda. Sebagai antisipasi ketika angin berhembus kencang.

Dari puncak bayangan menuju puncak diperlukan waktu sekitar 2 jam. Medanya amat curam, licin dan berbatu jadi diperlukan tenaga ekstra dan konsentrasi ekstra. Ketika sampai puncak, ada kenikmatan tersendiri yang akan didapat. Rasa capek akan terbayar dengan keindahan pemandangan yang disajikan. Pemandangan di puncak Penanggungan tak kalah eksotik dengan gunung-gungung yang mempunyai ketinggian melebihinya, terlihat gunung Arjuno, Welirang, Semeru dan luapan lumpur lapindo yang menolak lupa. Terpampang begitu luas seakan membentuk sebuah pulau yang menjadi pemandangan unik.

Sebagian besar pendaki melakukan perjalanan ketika malam hari. Mereka ingin menikmati gemerlap lampu yang nampak elok dari atas bukit. Selain itu pendakian malam juga lebih terasa ringan karena tak ada panas matahari yang ikut membakar kalori. Pendakian malam juga untuk mengejar matahari terbit, menyaksikan matahari tebit di atas gunung Penangungan sungguh luar biasa indahnya. Ada semburat warna orange memerah yang muncul dari timur secara perlahan menjadikan perpaduan warna antara orange menyala dengan awan semu sedikit gelap. Merupakan pemandangan yang rupawan ditambah hijaunya padang ilalang yang berbukit di bawahnya. Sembari duduk bersama suami ditemani secangkir kopi sebagai penghangat, sungguh nikmat nama yang akan kua dustakan.

Pendakian kali ini tak banyak yang berubah dari ritme perjalanan kami, sama seperti halnya tandem yang kerap kali kami lakukan dulu. Mungkin hanya masalah fisik kami yang terasa lebih berat seiring dengan bertambahnya berat badan kami hehe. Sebagai seorang ibu beranak satu, naik gunung bersama pasangan merupakan anugrah tersendiri. Kerap beberapa kali aku memimpikan untuk menikmati pendakian dengan rentang waktu yang lebih lama, hanya berdua saja denganmu. Seolah men”pause” rutinitas harian yang terkadang membosankan.

Namun ketika mimpi itu menjadi nyata, rasanya tak seindah yang dibayangkan. Beban rindu kepada anak begitu terasa berat. Kukira pak de Didi Kempot tak berlebihan, ketika melantunkan rindu lewat lagu dengan cendol dawetnya. ”kayak ngene rasane wong nyandang kangen” autonyayi.

Terima kasih untuk kesempatan menikmati rindu yang amat berarti, Lestari. Terima kasih untuk teman seperjalanan yang begitu sabar menemani di segala medan. Dalam pendakian dan dalam perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga. Aku mencintai kalian berdua banyak-banyak.

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart