Pendakian Argopuro, Trek Panjang Yang Menawan
Cikasur Argopuro - Teman seperjalanan

Pendakian Argopuro, Trek Panjang Yang Menawan

Argopuro adalah salah satu mimpiku sedari dulu. Kuingat betul kala itu aku melihat keindahan Argopuro dari acara TV pendakian kesana. Dari situ aku jatuh cinta dengan Argopuro, dan cintaku bersambut diwaktu yang tepat. Setelah penantian cukup lama sekitar 10 tahun lamanya, mimpiku terwujud. Pendakian Argopuro yang sangat spesial. Dengan teman seperjalanan istimewah yang kini menjadi teman seranjang. Begini kisah kami

Rute Argopuro dari Surabaya
Setelah bertunangan kami memutuskan untuk mendaki bersama dan Argopurolah yang menjadi tujuan kami. Argopuro adalah mimpiku sedari dulu dan Argopuro telah memikat mas Wahyu pada pendakian pertamanya 15 tahun silam. Perjalanan kami berawal dari Surabaya dengan menumpang Bus PATAS jurusan Probolinggo. Sesampainya di Probolinggo kami oper bus menuju Situbondo dan turun di terminal Besuki, terminal kecil sebelum teminal Situbondo. Dari Besuki kami naik ojek yang kala itu tak ada lagi angkot yang membawa kami ke Baderan. Kami terlalu sore sampai disana, menurut informasi sekitar, angkutan terakhir menuju Baderan pukul 16.00. Sesampainya di Baderan kami packing ulang barang bawaan kami, karena rencananya kami akan melakukan pendakian berempat namun dua teman kami tiba-tiba berhalangan untuk ikut. Rezeki kami untuk mengenal lebih dalam lagi sebelum memulai perjalanan panjang dalam rumah tangga.

Start Pendakian
Setelah packing dan menyelesaikan administrasi perijinan (surat keterangan sehat, membayar administrasi) kami memulai pendakian sekitar pukul 17.00. Awalnya kami ragu, karena hari sudah petang dan kami tak tahu persis jalurnya, akhirnya kami bareng rombongan lain untuk memulai pendakian. Rencananya kami akan bermalam di pos mata air satu dengan estimasi waktu 6 sampai 8 jam. Pendakian dimulai, kami disambut dengan ladang penduduk sekitar dengan hamparan sayuran dan jagung. Malam itu langit sangat indah berhiaskan bintang yang seolah mengiringi perjalanan dua sejoli yang sedang belajar bersama. Perjalanan panjang dengan medan yang landai dengan semilir angin malam pegunungan sesekali membuat kami merasa jenuh. Sekitar pukul 23.00 kami memutuskan untuk mendirikan tenda di tanah lapang di bawah pohon besar. Kami sangat kelelahan, target kami di pos mata air satu tak terpenuhi hari itu.

Perjalanan Menuju Cikasur
Malam beralu dan pagi menjelang. Badan kami sudah kembali segar, semalam kami tidur sangat nyenyak. Hari ini kami akan melanjutkan perjalanan dan akan bermalam di Cikasur. Pagi itu kami berbagi tugas, aku menyiapkan makanan dan dia packing tenda. Kami harus berangkat lebih awal, untuk mengejar target kami kemarin. Kami tak ingin telalu malam untuk sampai Cikasur, konon katanya Cikasur adalah salah satu tempat yang kental dengan cerita mistisnya.

Perjalanan menuju Cikasur sangat menyenangkan, jalurnya terlihat jelas. Hamparan savana dengan warna keemasan dan berbentuk keriting menjadi sajian asyik yang kami nikmati. Perbaduan warna langit yang cerah serta hijaunya pohon yang menjulang menghiasi perjalanan kami yang sedang dalam romansa kegembiraan. Perjalanan kala itu memang sangat panas, kesegaran oksigen yang diberikan oleh hutan hujan tropis khas pegunungan membuat kami sangat menikmati tiap perjalanan. Sesekali hamparan bunga berwarna putih dan unggu juga terlihat begitu indah.

Sekitar 6 jam perjalanan sampailah kami di Cikasur, padang savana luas yang konon dijadikan landasan lapangan terbang. Di Cikasur ada sungai Qolbu, berair jernih dengan tanaman selada air di atasnya. Cikasur memang pos ideal yang digunakan untuk bermalam, dataran yang empuk berkarpet savana dan ketersediaan air yang melimpah. Suasana malam Cikasur sangat indah dengan nuansa mistis yang amat kentara. Malam nan dingin dengan berhias bintang yang gemerlap menemani kami tidur di Cikasur, esoknya kami akan melanjutkan perjalanan menuju Rowo Embik dengan estimasi waktu sekitar 6 jam.

Perjalanan Menuju Rawa Embik
Memasuki hari ke 3 pendakian Argopuro, stamina kami mulai menurun, langkah kami mulai letoy dan mas Wahyu dalam kondisi kurang fit. Masih setengah perjalanan yang kami tempuh, sayang kalau harus putar balik. Kamipu melanjutkan denga berjalan perlahan dengan pasti sambil menikmati setiap rasa dalam tubuh kami dan pesona keindahan yang memukau. Mulai dari sini kami diuji untuk menekan keegoisan masing-masing dan belajar memahami pasangan. Kami beruntung belajar bersama dalam pendakian ini, sebagai modal kehidupan kami selanjutnya.

Savana Lonceng
Sekitar 16.30 kami sampai di Rowo Embik, yang merupakan sumber air terakhir sebelum puncak. Hari sudah mulai gelap, tangki semangat kami terisi kembali setelah istirihat sejenak dan saling menguatkan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Savana Lonceng sebagai tempat kami bermalam. Savana lonceng merupakan pertigaan dari jalur puncak yang ada di Argopuro. Perjalan menuju Savana Lonceng adalah perjalanan yang terasa berat dan sedikit berbeda. Kala itu menjelang magrib, matahari mulai kembali keperaduannya, kabut pekat mengiringi perjalanan kami. Kami melewati hutan pinus dan pohon edelwais yang menjulang tinggi, berbeda dengan edelawais yang pernah kami temui.

Suasa mencekam menyelimutiku, sensasi takut begitu aku rasakan, entah aku tak tahu penyebabnya. Berdoa dan terus berjalan yang bisa aku lakukan, tanpa ada obrolan sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar 2 jam. Hari sudah gelap ketika kami sampai di savana lonceng, disana sudah ada beberapa tenda yang berdiri. Kamipun bergegas mendirikan tenda dan membuat makan malam. Kala itu kondisi fisik mas Wahyu mulai melemah, ketika makan kerap kali dia memutahkannya, badannya meriang dan perutnya terasa mual. Dan kami memutuskan untuk segera berisirahat, berharap besok bisa kembali segar dan dapat melanjutkan perjalanan ke puncak dan menuju danau Taman Hidup.

Puncak Renganis dan Puncak Argopuro
Memasuki hari ke empat, kondisi fisik kami berangsur membaik. Kami memutuskan untuk ke puncak Renganis dan puncak Argopuro yang jarak tempuhnya tak begitu jauh dari Savana Lonceng. Sekitar 15 menit menuju puncak Renganis dengan medan yang menanjak, tak lama kami berada disana, kabut menghiasi puncak, angin dingin menerobos jaket kami. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Argopuro. Kala itu semesta sedang merestui, cuaca cerah dan hangat yang kami dapatkan, seolah mencharger energi kami untuk bekal menuju Taman Hidup.

Perjalanan Menuju Taman Hidup
Perjalanan menuju Taman Hidup tak kalah seru, medannya lumayan terjal dan butuh ekstra konsentrasi. Kami harus melipir pungungan dengan jalan yang sangat terjal, ada beberapa tali yang sengaja dipasang sebagai alat bantu. Setelah perjalan terjal, kami melewati hutan lumut, hutan dengan pohon berkanopi lebar dan rapat, sampai tak dapat ditembus oleh sinar matahari. Banyak lumut yang menghiasi pepohon didalamnya. Udara terasa sangat segar, adem dan menyenangkan seolah kita memasuki lorong waktu dan berada pada dimensi lain. Pohon berdiamer besar kerap kali kami jumpai, dengan akar gantung yang berukuran besar. Sekitar 6 jam perjalanan sampailah kita di danau Taman Hidup, danau yang sangat indah yang memberikan penghidupan (air) bagi banyak orang di bawah naungan gunung Argopuro.

Pemandangan di Taman hidup menjadi penutup indah selama perjalan di gunung Argopuro, dengan segala medan yang tersaji Argopuro masih menjadi idaman kami, dan kami bermimpi untuk mengunjunginya lagi setelah kami menjadi manusia baru berstatus suami dan istri.

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart