Pegarungan Sungai Alas yang membelah Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL)
Sungai Alas - Teman Seperjalanan (c) Himapla Unesa

Pegarungan Sungai Alas yang membelah Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL)

Pagi ini udara begitu sejuk, sisa hujan semalam membawa aroma segar tanah basah yang kerap kami rindukan. Sudah lebih dari tiga bulan kami kehilanagan teman seperjalanan. Teman yang sudah menuntaskan perjalanannya, sudah edis pengarungannya dan bertemu sang pencipta. Mengingat Pandu teman kami, tentu keseruan Lawe Alas XPDC terpapang nyata. Mengarungi sungai Alas,sungai yang membelah Taman Nasional Gunung Lauser yang pernah kami lakukan bersama.

Kami sangat beruntung pernah mengenal Pandu, dan perna merakanan kenikmatan arung jeram di beberapa sungai dengan karakteristik yang beraneka ragam . Ada banyak cerita yang tertoreh dan kerapkali menolak untuk dilupakan. Lewat tulisan ini kami ingin berbagi cerita tentang proses panjang ka mengarungi sungai Alas, sungai terpanjang di kota Serambi Mekah yang membelah Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL).

Karakteristik Sungai Alas
Sungai Alas memang tersohor untuk kalangan rafter (pecinta arung jeram), dengan tingkat kesulitan (grade) antara 3-4, yang artinya terdapat riam-riam yang diiringi gelombang-gelombang yang tak terduga serta tingkungan tajam di beberapa titik. Selain kedasyatan jeramnya, sungai Alas juga menawarkan pemandangan hutan yang begitu cantik nan hijau. Hutan hujan tropis dengan kekayaan alam yang begitu melimpah akan menjadi pengiring pengarungan sungai Alas. Kicauan burung terdengar begitu merdu, sesekali terdengar teriakan monyet yang tak terlihat batang hidungnya. Jika beruntung, akan dapat melihat hewan yang turun untuk minum. Udaranya begitu menyegarkan, kandugan oksigen melimpah akan mengisi rongga paru-paru kita. Sayangnya ada di beberapa titik terlihat pembukaan lahan yang mengurangi keindahan dan pastinya juga mempengaruhi ekosistem yang ada didalamnya.

Arung Jeram yang Tak Terlupakan
Dengan persiapan yang panjang nan matang, kami tim Lawe Alas XPDC yang berjumlah 14 orang bersiap untuk menikmati sungai yang membelah TNGL. Pengarungan kami berawal dari Ketambe dan berakhir di Kutacane dengan panjang sungai sekitar 150 km dan estimasi waktu satu minggu. Sungguh panjang dan menyenangkan hidup di atas perahu dan di sekitar bantaran sungai, kenangan yang tak akan terlupakan. Hari pertama pengaruhan kami sudah disambut dengan jeram yahud bertaburan standing wave. Perahu kami tak hentinya digoyang, beberapa tikungan tajam dengan bebatuan besar ditengahnya memberikan sensasi ketegangan tersendiri ngeri-ngeri sedap deh pokoknya.

Hari kedua masih berjeram yahud menski grade sungai mulai menurun, hari berikutnya jeram mulai jarang kami rasakan,hanya sesekali saja. Sungai lebar berair tenang, mulai menamani perjalanan kami berikutnya. Dalam ketenangan sungai yang ditawarkan kami dapat menikmati tiap jengkal pemangandang di sekitaran sungai Alas. kami menjumpai banyak air terjun di balik rimbunnya pepohonan, di antara tebing yang menjulang kokoh. Sesekali kami berjumpa dengan perahu kayu bermotor. Kami tak melihat pemukinan dan manusia lain selian anggota tim selama beberapa hari. Ketika kami berjumpa dengan manusia lain ada sensasi lega tersendiri. Memang kami berkegiatan di Taman Nasional jadi wajar ketika kami tak menjumpai pemukiman karena ada aturan zonasi yang mengikatnya.

Di malam hari terakhir pengarungan, hujan lebat menemani kami. Tenda yang kami gunakan semuanya bocor, api unggun yang kami buat kandas, tanah disekitar kami bermalam becek dan tak bisa digunakan untuk alas tidur. kami pun takut berlindung dibawah pohon tinggi, karena hujan malam itu disertai petir. Kami akhirnya berkumpul duduk di atas dry bag yang anti air, sembari menyelamatkan kamera dan barang elektronik kami, dalam dekapan kami berselimut jas hujan. Kami hanya saling pandang sembari berdoa semoga air sungai tak naik dan perahu kami tak hanyut. Pada saat itu kami benar-benar merindukan untuk pulang, sensasi kangen akan kampung halaman begitu mendalam.

Menjelang subuh, hujan telah reda, kami sempat tertidur mungkin karena begitu lelahnya. Matahari pagi sangat kami rindukan. Setalah hari mulai cerah kami mulai mengecek kondisi peralatan kami, terutama perahu. Setelah packing, sarapan dan berbagai persiapan kami melanjutkan pengarungan. Sebenarnya kami mulai bosan dengan kondisi sungai yang datar, terasa panjang dan melelahkan. Namun sungai Alas memberikan kejutan penutup yang teramat manis. Lewat air terjun yang begitu cantik, dengan dataran pasir dibawahnya yang berwarna coklat. Dataran pasirnya lumayan lebar sehingga kami dapat memarkirkan perahu dan berfoto serta istirahat lama disana. Kenangan tentang hujan semalampun seketika kandas.

Wisma Cinta Alam, Cottange indah bernuansa Alami di Ketambe
Di Ketambe kami dibantu oleh bang Johan sapaan akrab untuk pemilik cottage yang menyediakan jasa rafting serta tracking di Tanamn Nasional Gunung Lauser. Pagi buta kami tiba di cootage Wisma Cinta Alam, senyuman terhangat dan obrolan renyah dari bang Johan menyambut kami. Wisma Cinta Alam sangat menarik, terbuat dari kayu berlatar lebatnya hutan tropis Gunung Lauser, serta sungai Alas yang mengalir jernih, nuansa alami sangat terasa. Makanan yang ditawarkan pun sunguh lezat dengan cita rasa rempah khas Indonesia. Bang Johan dan keluarga begitu ramah, kami diperlakukan dengan istimewah layaknya adik-adiknya yang baru saja datang dari jauh. Penduduk sekitar sangat ramah dan menyenangkan tinggal disana. Wisma Cinta Alam merupakan cottage yang sangat menarik. Selain tempat istirahat yang menyenangkan, rafting atau tracking dengan mereka akan memberikan pengalaman berharga.

Tak sekedar tentang Arung Jeram
Lawe Alas XPDC merupakan pembelajaran yang amat berharga untuk kami para tim. Kami tak hanya belajar tentang memanuver perahu, cara menyelamatankan diri ketika bahaya terjadi atau segala hal tentang dunia arung jeram. Manajeman perbekalan juga merupakan kunci kesuksesan dalam pengarungan kali ini. Karena kami melakukan river camp, yang berarti kami harus membawa semua barang dan perbekalan kami di atas perahu ketika kami mengarung melintasi jeram. Sehingga kami bersepakatan untuk membatasi barang bawaan. Selain manajemen tentang barang bawaan, kami juga belajar tentang manajemen perbekalan untuk makan. Dari informasi yang kami dapatkan lokasi pemukinan sangat jauh, sehingga kami harus membawa bekal dengan komposisi yang pas, dengan kandungan gizi yang sesuai agar dapat memenuhi kebutuhan semua tim. Dan ini merupakan tantangan terbesar kami, karena kami terbiasa makan nasi dengan porsi yang luamayan banyak. Dan selama beberapa waktu kami berlatih untuk food combaining agar tubuh kami tak kaget dan tetap bugar ketika melakukan aktifitas fisik yang berat. Namun food combaining yang kami lakukan sepertinya tak berhasil, karena kami hanya akan kenyang ketika makan nasi dengan porsi kuli.

Menyusuri sungai alas memang anugerah tersendiri, apalagi dengan melewati beberapa proses seleksi dan latihan panjang menambah keistimewahan tersendiri. Proses persiapan yang panjang membuat kami para anggota tim begitu dekat. Tawa renyah kerap kali terdengar, meski beberapa kali konflik kerap memanas diatara kami. Suka duka yang kita lalui membuat satu rangkaian cerita apik yang tentu akan kami banggakan. Teman seperjalanan yang penuh warna dan kerap kali membuatku rindu untuk berpetualang bersama. Miss you gaes hehehe.

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart