Mengenal Pendidikan Merdeka Ala Salam
Sanggar Anak Alam - Teman seperjalanan

Mengenal Pendidikan Merdeka Ala Salam

Aku tak ingat kapan pastinya aku kenal dengan Salam, yang jelas aku tahu sedikit hal tentangnya setelah membaca buku Sekolah Biasa Saja tulisan Toto Raharjo. Dalam bukunya menjelaskan tentang seluk beluk dan tetek bengek tentang SALAM. Buku itu telah memporak-porandakan pola pikir yang terpatri tentang pendidikan dalam kepalaku. Pendidikan yang telah kuenyam selama 17 tahun lamanya. Paradigma akan pendidikan berubah setelah membaca buku itu. Dari situ aku mulai jatuh cinta dan hasrat untuk tahu bertumbuh pesat. Alhamdulillah semesta merestui, bulan April lalu kami mengunjungginya. Meski tak sempat ngobrol dengan Bu Wahyan dan Pak Toto tapi ada rasa senang meski masih terasa kurang. Anggap saja semesta meminta kami kembali kesana.

SALAM Sekolah “Mewah”
SALAM merupakan Sangar Anak Alam, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang beralamat di Nitriprayan Rt 04 Jomegatan, Ngestiharjo, Kasihan Bantul. Menyelengarakan kegiatan belajar kelompok bermain, Taman Anak, Pendidikan Dasar (Paket A), Pendidikan Menengah Pertama (Paket B) dan Sekolah Menengah Atas (Paket C). Sepintas kami tak menyangka yang kami lewati adalah SALAM yang notabennya pusat kegiatan belajar masyarakat atau lebih mudahnya sekolahan. Lokasinya sangat mewah, berada di tengah sawah yang masih produktif. Untuk ukuran standar sekolah yang kerap kali aku jumpai, SALAM jauh berbeda, tak ada sekat dinding sebagai pembatas ataupun bangku berjejer kaku layaknya sekolahan pada umumnya. Ada beberapa dinding sebagai pemisah ruangan dan dinding itu penuh hasil karya peserta didiknya.

Lagi-lagi semesta mersetui di saat yang tepat untukku, di ulang tahunnya yang ke 19 SALAM mempersembahkan buku “Sekolah Apa Ini”. Buku yang sangat aku butuhkan untuk menghapus rasa dahaga akan praktik pendidikan merdeka. Dalam buku itu menjelaskan akan banyak hal tentang SALAM, semacam buku petunjuk melakoni pendidikan merdeka. Pada dasarnya pendidikan merdeka adalah membebaskan anak tumbuh berdasarkan fitrahnya. Tugas orang tua/orang dewasa hanyalah sebagai fasilitator untuk menjaga fitrah yang telah terinstal semenjak anak diciptakan. Dan itu bukanlah perkara mudah,bagi orang dewasa yang sudah lahir terlebih dulu dan merasa paling punya pengalaman yang kadang lupa akan pentingnya proses belajar pada anak.

SALAM Sekolah Merdeka
Kemerdekaan belajar di SALAM tak hanya sebatas kebebasan untuk tak berseragam atau bersepatu. Sejatinya kemerdekaan dimana tak ada aturan yang ditetapkan oleh yang lebih berkuasa untuk dilaksankan oleh semua. Mereka tak mengenal aturan baku, yang mereka tanamkan adalah kesepakatan bersama ( melibatkan pihak sekolah, fasilitator, siswa dan juga orang tua ) serta konsenkuensi atas pelangaran kesepakatan. Jadi tiap kelas akan berbeda satu sama lainnya. Meskipun berbeda tiap kelas, ada kesepakatan yang menjadi garis besar di SALAM bagi semua jenjang, yaitu jaga diri, jaga teman dan jaga lingkungan. SALAM juga berpegang teguh pada  empat pilar dalam mengurai proses belajarnya, yaitu pangan, kesehatan, lingkungan dan sosial budaya.

Kemerdekaan belajar tak hanya slogan yang beberapa pekan ini ramai diperbincangkan setelah pak menteri pendidikan yang ganteng mengusung kemerdekaan belajar pendidikan di Indonesia. SALAM telah melakoni kemerdekaan belajar sejak 20 tahun, dan semua orang boleh belajar disana (dengan batas kuota). Dari suku bangsa apapun, agama apapun, anak berkubutuhan khusus (meski sejatinya setiap anak memang unik dan mempunyai kebutuhannya masing-masing) bakal diterima belajar, dengan syarat orang tua/wali siap untuk berpatner dan bekerja sama dalam proses pembelajaran. Karena SALAM adalah sekolah keluarga, yang berusaha membangun ekosistem pendidikan partisipatif dimana melibatkan semua elemen (keluarga, masyarakat,dan pusat pendidikan).

SALAM Berbasis Riset
Di SALAM tak ada mata pelajar yang akan mengatur siswanya belajar, mereka memandang pengkotak-kotakan mata pelajaran membatasi insting anak dalam mengeksplorasi dan memperoleh pengetahuan. SALAM memilih mengunakan model belajar berbasis riset. Dimana anak-anak dibebaskan belajar melalui pengamatan langsung pada sumber belajarnya. Belajar melalui melihat dan mengamati, bersentuhan dan melakukan sesuatu dari sumber belajarnya, mengambil kesimpulan dan mengungkapkanya apa yang mereka lihat dan apa yang mereka temukan dan mencari solusi.

Perbedaan SALAM dengan Sekolah Lain
Selain pembelajran berbasis riset, SALAM juga menggunakan media belajar yang unik. Media belajar yang diciptakan untuk mendukung proses belajar mandiri serta terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Di SALAM ada banyak program/kegiatan sebagai penunjang proses pembelajaran yang dailakukan dalam kurun waktu yang dijadwalkan, diantaranya kunjungan keluarga (Home Visit), perjalanan pendek (minitrip), kudapan dan makan siang berbasis pangan lokal, memasak, pasar Senin Legi, Organisasi Anak Salam (OAS), bermain, kelas minat, dan tinggal bersama keluarga lain (Live In). Serangkaian kegiatan yang diciptakan memang terkesan berbeda ribet dengan sekolah pada umumnya. SALAM percaya dari setiap proses kegiatan yang dilakukan ada begitu banyak pembelajaran yang akan di dapatnya. (untuk penjelasan tiap-tiap kegiatan silahkan baca bukunya ya gaes).

Ada banyak yang hal yang membuat SALAM berbeda dengan sekolah konvensional pada umumnya. Memupuk dan menumbuhkan kebiasan bertanya dan mencari tahu bersama adalah perbedaan yang mendasar antara SALAM dengan sekolah lainnya. Sejak usia dini, anak-anak sudah dimerdekakan serta dibangunkan tradisi ber-riset. Sehingga menjadi pondasi yang membentuk sebuah pola pikir yang dapat mendorong sikap siap menerima kegagalan sebagai bagian dari proses mencari dan menemukan sendiri. SALAM hadir menjadi sejatinya alternatif pendidikan di negeri ini, dengan kesadaran penuh akan pentingnya sebuah proses belajar.

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart