Cerita Manis Pendakian Gunung Merbabu
Puncak Gunung Merbabu - Teman seperjalanan

Cerita Manis Pendakian Gunung Merbabu

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengisi tangki cinta tiap pasangan. Berbagai aktivitas bersama menyenangkan dapat menjadikan tabungan moment yang akan sangat membahagiakan bila dikenang. Seperti kenangan kami ketika melakukan pendakian Merbabu, gunung pertama yang kami singgahi setelah resmi menjadi suami istri. Berikut kisah kami.

Memasuki bulan ke empat pernikahan, kami memutuskan untuk tracking ke Merbabu. Perjalanan pertama kami setelah resmi menikah. Kala itu Merbabu menjadi gunung yang pas setelah kami berdiskusi. Jalurnya pendek dengan medan yang lumayan. Maklum pasca menikah kami jarang berolahraga. Lokasinya juga strategis banyak moda transportasi umum yang dapat kami gunakan. Keindahan alamnya sangat menawan yang sudah tersohor sejak dulu.

Rute Merbabu dari Surabaya
Malam itu kami berangkat dari terminal Bungurasih Surabaya menuju Magelang dengan menaiki bus cepat EKA. Kala itu sedang long weekend jadi terminal sangat sesak dan bus cepat jurusan Magelang lumayan sulit ditemukan. Akhirnya kami memutuskan untuk datang ke tempat parkir bus EKA. Singkat cerita kami berangkat hampir tengah malam dari Surabaya dan lewat jalur utara menuju Magelang, konon jalur barat macet total di daerah Madiun. Kala itu Tol Surabaya-Solo belum ada. Sekitar pukul 05.00 kami sampai di terminal Magelang, perjalanan malam terasa begitu cepat karena kami tertidur lelap setelah seharian berpeluh dengan pekerjaan di kantor.

Dari terminal Magelang menuju Wekas kami naik bus mini. Kebetulan bus mini yang kami tumpangi mengakut para pendaki, jadi kami diberi kesempatan untuk belanja dan sarapan di Pasar Sapi. Dari pasar sapi kami dianatar oleh bus mini menuju bascame Wekas. Pagi itu lumayan rame, ada banyak rombongan yang sedang melakukan persiapan
trakcing Merbabu.

Setelah menyelesaikan administrasi di bascamp, kami melakukan pemanasan ringan sebelum berangkat sembari menunggu teman seperjalanan kami yang berangkat dari Jogja. Kami menunggu di masjid setelah basecamp. Di waktu menunggu kami pergunakan untuk istrirahat dan ngobrol ringan seputar harapan-harapan kami ke depan sembari menatap hijaunya Merbabu yang seolah memanggil kami. Sampai tiba saatnya sholat jumat, kami pun ikut jumatan di masjid itu, ini sholat jumat pertamaku dan dilakukan di masjid sederhana nan sejuk di lereng Merbabu.

Perjalanan Menuju Pos Dua
Setelah sholat jumat teman kami tak kunjung datang, akhirnya kami memutuskan untuk memulai perjalanan. Sekitar 5 menit berjalan kami sudah ditemani hujan. Awalnya gerimis romantis yang menyambut kami. Seiring berjalannya waktu intensitas hujan semakin meningkat yang membuat beban dalam punggung kami semakin berat.

Perjalanan dari basecamp menuju pos satu terasa nikmat dengan hujan yang menemani kami. Jalurnya berupa susunan batu rapi yang diapit ladang sayur milik penduduk sekitar. Sekitar 2 jam kami sampai di pos I dan hujan manis masih menemani kami. Tanpa pikir panjang kami melanjutkan perjalanan menuju pos II. Beban kami semakin berat, ditambah dinginnya mulai terasa pada persendian kami. Jalur menuju pos 2 lumayan terjal, hampir semuanya tanjakan tajam tanpa ada bonus (jalan datar).

Fisik kami mulai terkuras, beban kami bertambah berat dari jas hujan yang kami kenakan dan carier kami yang terasa semakin berat karena basah. Disinilah emosi kami sedang diuji, dikala kondisi tak nyaman sedang kami hadapi dengan rasa lelah yang melanda. Ini sebagai pengingat kami dan sebagai modal kami untuk melakukakn perjalanan panjang dalam rumah tangga yang tentunya akan banyak medan dilalui.

Bermalam di Pos II
Sekitar 2 jam perjalanan kami samapai di pos II, tempat terbuka datar yang terdapat sumber air. Pos II biasanya digunakan tempat untuk mendirikan tenda. Puluhan tenda dapat di dirikan disini, dan kami akan bermalam disini dan esokannya akan melanjutkan perjalanan menuju puncak dan turun jalur Selo. Kala itu kondisiku sangat drop, setelah 4 jam berada dalam guyuran hujan. Seolah tulangku mulai membeku dan aku enggan untuk melanjutkan perjalanan esok hari. Namun teman seperjalananku, suamiku mencoba menghiburku dengan lelucon yang sebenarnya tak lucu dan meyakinkanku kalau aku kuat untuk melanjutkan perjalanan esok 2,5 jam menuju puncak.

Sampai di Pos II, kami bergegas mendirikan tenda dan segera ganti baju. Kami mulai memasak air untuk minuman hangat dan makan malam. Gerimis masih menemani kami. Segelas energen coklat panas dan secangkir kopi menemani kami sembari menunggu mie instan yang kami masak. Suami berkeliling pos dua untuk mencari rekan kami dari Surabaya yang sudah tracking terlebih dahulu.

Ternyata tenda mereka ada yang kebocoran. Salah seorang rekan kami kondisinya sangat drop. Akhirnya kami membawanya dalam tenda kami. Setelah makan malam dengan sedikit obrolan kami ber 4 pun tidur. Hujan malam itu masih menemani kami.

Perjalanan dari Pos II Menuju Puncak
Mataharipun terbit, cuaca sangat cerah kala itu, terdapat pelangi sedang mengantung dibalik punggungan. Menentramkan jiwaku dan lupa atas guyuran hujan sehari penuh kemarin. Keindahan pelangi memantikan semangatku untuk melanjutkan perjalanan. Setelah mempertimbangkan banyak hal, kami memutuskan untuk ke puncak dan kembali ke pos II dan turun jalur Wekas. Kami tak jadi turun jalur Selo. Jalur ekstrim yang ada di beberpa titik dan kondisi tas yang basah yang menjadi latar belakangnya.

Perjalanan menuju puncak dimulai, kami hanya membawa beberapa barang yang kami butuhkan. Sisanya kami tingal di tenda dan menitipkannya pada Allah hehehe. Jalur puncak ada di atas sumber air, setelah 1 jam perjalanan dengan jalur bebatuan campur tanah dan berkelok kami sampai di pos persimpangan pemancar atau pos III. Jalur pendakian mulai terbuka hingga bertemu persimpangan jalur Kopeng yang berada di pos Watu Tulis. Sekitar 15 menit untuk sampai di persimpangan pos Helipad. Pendakian dilanjutkan dengan melewati punggungan trek terbuka dengan suguhan pemandangan lembah yang indah. Setelah sampai di persimpangan, bisa memilih Puncak Kenteng Songo atau Puncak Syarif.

Kami memilih Puncak Kenteng Songo dengan trek yang cukup terjal dan menanjak melewati punggungan Ondorante. Kami juga melipir tebing yang disebut jembatan setan, sungguh sensasi yang sangat menarik. Di puncak Kenteng Songgo nampak jelas gunung Merapi yang gagah menantang. Di sisi barat nampak pula gunung Sindoro dan gunung Sumbing yang seolah memangil kami untuk kesana. Siang itu cuaca sangat cerah, pemandangan apik terpapar di hadapan kami dengan hembusan angin yang kencang. Kala itu puncak sangat ramai, kami bertemu teman dari jogja yang kami nantikan kemarin. Dibawakan sekotak bakpia coklat sebagai lambang permintaan maaf. Dia molor dari jadwal janjian yang kita sepakati kemarin. Alhasil dia sampai di POs 2 malam hari. dan tak sempat bertemu kami.

Tak sampai satu jam kami berada di puncak, untuk berfoto dan menikmati pemandangan. Kamipun turun menuju pos dua dan melanjutkan perjalanan pulang menuju bascamp Wekas. Perjalanan pulang begitu lancer, tak sampai 3 jam kami sudah berada di Pos perijinan dan menikmati soto yang tearsa begitu nikmat.

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart